Tuesday, February 6, 2007

Garis BesarTerbentangnya Islam di Abad 21
oleh Umar Ibrahim Vadillo

Ketika sebagian besar umat manusia dikorbankan demi tegaknya prinsip Negara Dunia - melalui rekayasa peperangan, banjir pengangguran, dan aneka pengejawantahan manusia sebagai hamba ekonomi - maka semakin jelaslah bahwa harus bangkit satu kekuatan untuk melawan keadaan yang mengerikan ini. Akan kita tunjukkan bahwa satu-satunya kekuatan yang benar-benar bisa menentang keadaan ini adalah Islam, bukan karena Isalm adalah sebuah sistem reformasi yang diterapkan kepada tatanan sosial kita, melainkan karena hanya Islam-lah yang pada hakikatnya menihilkan konsep negara sistem-sistemnya, beserta seluruh reformasinya.
Berbagai kegiatan politik yang dilakukan selama ini telah semakin membenamkan dunia dalam kekacauan ekonomi. Para penjahat fanatik Negara Dunia telah memasang sebuah sistem reformasi tiada akhir yang benar-benar berntentangan dengan kemanusiaan. Tak ubahnya bak para astronom yang mencoba menciptakan seluruh semesta raya berbekal rumusan matematis semata, maka para birokrat masa kini pun mencoba mendirikan masyarakat berbekal paparan mimpi tentang kekuasaan mutlak negara. Ajaran kaku mengenai kekuasaaan mutlak negara ini disajikan kepada khalayak dengan polesan kata-kata semacam "demokrasi", "kebebasan", dan "persamaan hak". Pencekokkan ajaran ini, dengan gemilang telah membuat semua kelompok oposisi berbulat tekad untuk hanya menggunakan sistem reformasi yang "sah" menurut negara, dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Maka dipentaskanlah secara bergatian berbagai teori, pemikiran dan gerakan-gerakan untuk mereformasi ini atau itu, agar aneka pernyataan dan tuntutan tersebut disahkan oleh wewenang engaturan negara.
Gagasan untuk membuat hukum mengenai apa yang baik untuk masyarakat setara mustahilnya dengan membuat hukum mengenai cinta antar dua insan. Walau demikian, tetap saja kebebasan, persamaan hak, persaudaraan, dan lain-lain, terus diakui sebagai acuan undang-undang. Sebagaimana kebencian akan tumbuh dari pemaksaan cinta, maka tanpa kecuali, hasil dari aneka kemustahilan pemaksaan dan pengendalian atas fitrah kebebasan manusia adalah kebalikannya. Maka terwujudlah kekacauan total, lengkap dengan riuh rendahnya aneka tuntutan dari berbagai demo, yang pada akhirnya malah memastikan perlunya pengendalian yang lebih ketat lagi atas khalayak. Sebagaimana cinta, sifat persaudaraan akan menguat dengan adanya ketulusan pribadi dan akan sirna oleh pelacuran. Sebagai mesin kendali legislatif maka negara-lah yang menjadi masalah, karena negara menuntut pengendalian menyeluruh atas semua urusan, bahkan kini mengarah pada pengendalian atas dunia.
Kini, di seluruh pelosok dunia, semua satuan politik, ekonomi maupun keagamaan telah menyerahkan cara pengambilan keputusan politik mereka kepada sistem perwakilan politik. Dan semua perwakilan politik itu mengaku bahwa mereka mampu menjunjung integritas politisnya tanpa terpengaruh oleh penyelewengan yang terjadi dalam sikap perwakilan politik kelompok lain. Sifat saling bertentangan ini, cocok jitu dengan keseragaman pemahaman mereka bahwa hanya mereka saja-lah yang paling mampu menafsirkan reformasi.


Tiada satu pun di antara mereka yang meragukan perlu tidaknya perwakilan politik, karena memang itulah yang diharapkan dari para pengikut setianya. Seandainya ada di antara para politisi, dan menuntut agar pengambilan keputusan politik dan ekonomi dikembalikan kepada pribadi-pribadi, maka kita akan menghadapi keadaan yang jauh berbeda, yaitu kebebasan pribadi hakiki yang sesuai fitrah. Tapi toh kenyataannya tidak demikian. Kebebasan pribadi bukanlah tujuan dan keperdulian mereka. Bahkan cita-cita mereka tentang akan terwujudnya masyarakat yang baik dan berbahagia di masa depan, malah mengikis kebebasan manusia di masa kini. Jadi sebenarnya mereka semua sama saja.

Semua undang-undang yang ditulis berazaskan deklarasi Prinsip-Prinsip Adi luhung dan Hak-Hak Azasi Manusia, dengan mudah bisa ditafsirkan mengikuti berbagai kepentingan khusus, yang pada akhirnya selalu diarahkan kepada saku seseorang. Atas nama Persamaan Hak dan Kebebasan, keputusan-keputusan politik telah menggolongkan segala sesuatu di dunia ini sebagai bahan baku bagi praktek kejahatan riba. Kristen - yang nilai-nilai gerejanya dianggap sebagai sesuatu yang ideal tetapi sama sekali terpisah dari kenyataan - adalah salah satu contoh gamblang mengenai cara pandang ganda ini. Walhasil, sebagai contoh, seperti inilah Pendeta Ballerini mendefinisikan riba:
"Adil tidaknya bunga bergantung pada niat seseorang"
Jadi menurut nilai-nilai kristen modern, saya bleh memungut 10% bunga ribawi atas tetangga saya, asalkan ketika melakukannya saya tidak punya niat buruk; sama seperti ketika saya boleh membunuh seseirang demi melindunginya dari penyakit flu. Moralitas macam ini tidak ada kaitannya dengan kenyataan dan tidak bisa diterapkan di dunia ini. Jadi, menurut mereka, Vatican Bank , milik Paus yang menyelenggarakan berbagai macam jenis transaksi ribawi dengan setulus-tulusnya niat baik itu, tentunya tidak sama dengan riba dari bank-bak lain yang semuanya berniat buruk.

Sosialisme, yang bangkit setelah kristen, terbukti tidak cukup revolusioner, malah lebih merupakan kelanjutan dati pola Negara Romawi yang telah dirintis katolik di Eropa. Jika kristen menanamkan kuasa Ketuhanan pada sekerat biskuit suci - di mana untuk mendapatkannya setiap orang harus membungkuk dengan hormat dan mengagungkannya - yang dinyatakan sebagai tuhan, maka negara sosialis modern meninggikan derajat selembar kertas tak bernilai sebagai alat tukar wajib, yang bedanya dengan biskuit tadi, kertas tersebut menuntut pengorbanan lebih besar, karena untuk mendapatkannya, begitu banyak orang harus bekerja 8 jam sehari. Sekerat biskuit atau selembar kertas, pada hakikatnya sama saja. Pengendalian atas khalayak ditumbuhkan melalui rasa takut dan sulapan muslihat yang dipicu oleh metode analisa sempalan dan mengandalkan fakta-fakta terbatas. Pengendalian itu lalu dijabarkan secara cermat, dibuat masuk akal, dibuat agar dapat diterima, kemudian dirangkumkan untuk berbagai keperluan.
Satu-satunya cara untuk melawan gigihnya usaha untuk mengendalikan kita itu, adalah dengan segigihnya pula meneguhkan kebebasan. Kepada mereka yang bersikeras ingin mewakili kita secara politik maupun ekonomi, kita harus nyatakan dengan tegas: "Tidak!" Langkah selanjutnya adalah kita harus menyandang tanggung jawab kita sendiri. Peneguhan kebebasai in berwujud pada kegiatan keseharian hidup kita, bukan dalam aneka deklarasi hukum baru. Gelanggan kebebasan ada dalam perilaku sehari-hari, bukan pada dokumen-dokumen hukum. Dan apakah perilaku terdasar dan dan paling umum dari semua perilaku sosial? Jawabnya: perniagaan dan perdagangan, dan ini berarti kita semuanya adalah pedagang
.dikutip dari islami hari ini

No comments: