Monday, February 12, 2007

Sinyal Hari-hari Depan Palestina


Abu Thariq Muhammad

Sejumlah peristiwa di Gaza beberapa hari lalu hanyalah mukadimah bagi peristiwa beberapa hari ke depan di Palestina. Penulis akan paparkan sikap kedua kubu yang berlawanan. Kubu pertama, Hamas, sebagian kelompok murni dari faksi Palestina termasuk sebagian kelompok di Fatah. Kedua, kubu presiden Mahmod Abbas dan kelompok pendukung kudeta yang kebanyakan dari Fatah, Amerika dan Israel.

Agar kita tahu dimana kita sekarang, kita harus kembali ke belakang sejenak.

Hamas mengagetkan dunia sebagai pemilik kursi mayoritas di parlemen Palestina. Kini berupaya membentuk pemerintah bersatu nasional. Sebuah pemerintah yang bukan untuk kepentingan kelompok kubu pertama namun untuk kepentingan nasional Palestina dan masalahnya. Ini artinya akan menggagalkan semua upaya kubu kedua.

Kubu kedua mempelajari situasi dan membuat sebuah rencana yang akan dilakukan dalam beberapa fase. Fase pertama, membiarkan Hamas membentuk pemerintah persatuan nasional sendirian sehingga menjadi pemerintah yang diboikot. Pemerintah akan dibentuk Hamas akan dicabut wewenangnya sehingga ia tidak berdaya. Para tokohnya akan ditangkapi. Tujuannya agar terjadi ledakan internal atau gerakan kudeta rakyat terhadap pemerintah ini. Namun ini sekenario yang tidak akan terjadi. Jika fase pertama ini gagal maka harus disiapkan gerakan bersenjata. Namun penulis yakin Hamas tidak akan rugi dalam hal ini bahkan sangat diuntungkan.

Untuk menyempurnakan sekenari, kubu kedua menilai pentingnya mempersiapkan sejumlah pertemuan untuk membentuk pemerintahan nasional tapi harus diakhir dengan kegagalan. Kemudian kubu kedua buru-buru memberikan pernyataan persnya factor kegagalan akibat kubu pertama. Tujuannya, kubu kedua akan bisa melakukan rencana berikutnya. Apa yang terjadi di Gaza adalah mukadimah dari bagian rencana ini. Tujuannya adalah menguji sampai dimana kekuatan Hamas sehingga jika berhadapan Hamas akan menyerah.

Penulis menilai kesepakatan genjata senjata terakhir hanya jeda yang dibutuhkan oleh kubu kedua untuk menyiapkan agar memiliki kesiapan penuh untuk memperoleh senjata. Ini yang membuat Hamas dalam posisi sangat sulit. Hamas menyadari dengan baik haramnya darah seorang muslim. Namun kubu kedua tidak peduli dengan haramnya darah ini. Mereka hanya pandai bernyanyi di depan kamera tentang haramnya darah Palestina. Ketika ia berpaling dari kamera maka justru membuat makar untuk menumpahkan sungai darah itu.

Penulis menilai masalah lebih berbahaya. Sebab bagi kubu kedua, tidak ada jalan lain antara menghadapi Hamas atau menumpahkan darah Palestina. Selanjutnya, Israel akan memaksa memberikan syarat-syaratnya dan apa yang diinginkan. Pemerintah Palestina agenda utamanya tetap memerangi perlawanan. Hamas nantinya akan melepaskan diri dari pemerintahan otoritas dan kembali ke tabiat perjuangan asalnya untuk menjaga darah Palestina tertumpah. Kemudian Israel memaksakan perundingan dengan para penolongnya.

Penulis yakin tidak ada pilihan lain yang berhasil. Yaitu pilihan dimana rakyat akan tetap berlindung dan melindungi Hamas sebagai pemerintah. Apakah Hamas mampu mewujudkan itu di tengah kelaparan, ketakutan, intimidasi, iming-iming haram? Pertanyaan inilah yang akan dijawab di hari-hari mendatang.

Penulis melihat ada gejalan dalam waktu dekat dimana presiden Mahmod Abbas akan menggerakan para pengikutnya untuk misalnya, Mahkamah Agung Palestina untuk mengecam Hamas dan pasukan pelaksananya. Kemudian Abbas membubarkan pasukan pelaksana di bawah Depdagri Palestina ini, memberhentikan pemerintah, menyerukan pasukannya mempersiapkan saat ini dengan dukungan dana jutaan dolar Amerika dan dukungan Israel untuk menguasai lapangan dan situasi darurat. Dari sana kemudian dibubarkan parlemen Palestina dan menetapkan jadwal pemilu baru. Namun karena pemilu belum ada persiapan sama sekali maka tema ini membutuhkan pembicaraan baru. (atb)

dikutip dari infopalesina.com

No comments: